Minggu, 17 Agustus 2014

Sedikit Kutipan ^_^ (Membuat pilihan bukan berarti harus meninggalkan salah satu)

Refrain Ini adalah salah satu novel yang aku sukai dari isi ceritanya,ga tau kenapa kalau aku sudah baca novelnya kalau difilmkan aku lebih suka versi novelnya mungkin karena aku sudah tau alur ceritanya kalii yaa.:D
“Semua orang pasti punya masalah yg tidak ingin diceritakan ke orang lain”
“cinta itu tidak memiliki ,semua orang berhak merasakannya,menyimpannya tapi kalau terlalu takut untuk mengakuinya selamanya kau terperangkap didalamnya.”
“segala sesuatu yg hidup adalah pilihan ,tapi kadang kita harus berani memilih dan mempertahankan apa yg kita inginkan. “
“semua orang bilang cewek dan cowok tidak pernah bisa jadi sekedar sahabat ,persahabatan itu tidak memilih persahbatan yg tulus tidak harus punya alasan.”
“kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk menyukai kita ,yg bisa kita lakukan hanya merelakan dan berharap supaya dia bahagia.”
“Tidak ada persahabatan yg sempurna yg ada hanya orang-orang yg berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.”
"ada tiga jenis orang dalam dunia ini; orang yang memiliki mimpi lalu memilih untuk mengejarnya sampai dapat, orang yang memiliki mimpi tapi tidak melakukan apa-apa untuk menjadikannya nyata, dan orang yang sama sekali tidak mempunyai mimpi."
“membuat pilihan bukan berarti harus meninggalkan salah satu.”
“butuh sebuah pengorbanan untuk menyadari bahwa cinta tidak seperti dongeng yg selalu berakhir bahagia.”
“Didunia ini tidak ada namanya cinta pada pandangan pertama ,yg ada hanya nafsu yg salah diartikan sebagai cinta.”
“Manusia akan menua ,tempat bisa berubah,kita bisa lupa karena itu lah kamera digunakan untuk merekam hal-hal yg tidak dapat diingat manusia dengan sempurna.”
“tidak perlu adanya penjelasan dan kata maaf kita sama-sama mengerti .”

Rabu, 06 Agustus 2014

haluan semata

Buih ombak yang terus bergerumuh
suara desahan angin sejukan asa
dalam hening terngiang sebuah lamunan
entah harus dimulai darimana?
hidup semakin tak berarah, perlakuan keji seakan menjadi hobi...
mau jadi apa kau ini wahai anak adam?
air mata selalu bercucuran...
tapi perbuatan itu masih saja kau lakukan?
apa yang kau mau wahai manusia?
nikmatnya yang manakah yang akan kamu dustakan?
dengan ribuan nikmat yang tak terduga

Minggu, 18 Mei 2014

Nestapa Bumi

Laut akan menjadi ombak..
Jika angin tak bersahabat dengan udara
Mata akan tertutup
Jika ia merasa lelah
Oh Bumi....
Apakah langit selamanya akan berawan?
Apakah warna biru selamanya akan menjdi biru?
Tidak...!!
Hitam menjadi penghalang bagi sang cahaya
Matahari terkalahkan oleh bulan...
Bintang menjadi raja morfem yang akan selalu unggul
Mata berbinar ketika pelangi datang..
Ia takkan tampak tanpa ada biasan ketika hujan turun..
Dimana ada hujan,,,
Pembiasan akan terjadi...
Disitulah aku daatang
Kata si pelangi...


Terukirkan Pelangi Itu

Rasaku telah mati..
Dan aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi...
Disaat aku sedih..
Tak seorang pun merangkul..
Disaat aku butuh...
Ku harap ada tangan terulur..
Namun, tak seorang pun datang...
Dan aku akan tetap tersenyum..
Walau sesekali kau mencaciku...
Aku akan tetap berdiri tegak..
Walau sesekali kau membuatku jatuh..
Aku akan tetap berusaha kuat, tegar
Walau kau buat duniaku bagai neraka
Aku akan tetap menganggapmu teman..
Walau kau membenciku...
Dan...
Aku akan terus tersenyum...
Berdiri tegak..
Tetap kuat.. Tegar...
Dan menyayangimu...
Walau sesekali kau mencaciku dan membuatku terjatuh...
Membuat dunia ini bagai neraka dan membenciku..
Karena pelangi kecil indah itu pernah kau hadirkan kepadaku..

SEKEDAR BERCERITA

Waktu yang ku lalui bukan hanya untuk sekedar bercerita...
namun harus mempunya arti makna sesungguhnya untuk menjadi lebih baik lagi....
ombak akan selalu datang, ketika angin laut datang..
namun...
bisa kah aku seperti lumba-lumba, yang selalu menyukai datangnya ombak untuk menjadi mainan..
aku ingin menjadi seorang wanita yang di hormati..
bukan yang disukai oleh banyak kaum adam...
tersadari melihat fartomargana di balik jendela...
hanya dapat meringik layak hinanya keledai...
aku memaikan gitas mosi..
sarak suara yang tanpa ku sadari banyak makna..
tabir menjadi tombak ku untuk kedepan..
namun pahit terasakan...
bak minum kopi hitam tanpa gula...
hidup...
haruskah ku pertahankan?
layakkah kau wahai manusia tuk menginjak bumi?
sedangkan kau tak pernah memperdulikan kanan kirimu..
hanya seekor anjing yang menemani malam...

Minggu, 23 Februari 2014

Menghukum Tanpa Kekerasan



            Waktu itu ridwan berusia 17 thn, ia tinggal bersama kedua orang tuanya disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya. Kediaman rumah ridwan berada di tengah-tengah kebun the, letaknya berada di pedalaman desa sri ayu, sukabumi. Mereka tinggal jauh dari keramaian dan mereka pun tidak mempunyai tetangga satupun. Dan tak heran jika ridwan dan kedua saudara perempuannya sangat senang jika ada kesempatan untuk pergi ke kota atau berkunjung kerumah teman atau pun nonton film di bioskop.
            Suatu hari ayah ridwan memintanya untuk mengatarkannya ke kota untuk menghadiri sebuah seminar seharian penuh. Dan ridwan pun sangat gembira dengan kesempatan itu. Ketika ibunya mengetahui bahwa ridwan akan pergi ke kota, ibunya pun memberikan daftar belanja, berniat meminta tolong untuk membelikannya untuk keperluan sehari-hari di rumah, dikarenakan jarak antara rumah ridwan dengan kota itu sangat jauh. Selain itu, ayahnya pun juga memintanya untuk melakukan pekerjaan ayahnya yang telah lama tertunda, yaitu memperbaiki mobil ke bengkel.
            Pagi itu setiba di tempat seminar, ayah berkata :
“ayah tunggumu disini jam lima sore, lalu kita akan pulang kerumah bersama-sama.” Ridwan pun segera menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh ibu dan ayahnya.
            Kemudian setelah selesai, ridwan pergi ke warnet, dan ia sangat menikmati permainan yang sedang ia mainkan, sehingga ia lupa waktu, dan pesan ayahnya untuk menjemputnya jam lima sore. Begitu melihat jam yang menunjukan pukul 17.30 ridwan segera berlari pergi mengambil mobil dibengkel dan terburu bergegas menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu, sudah hampir jam 18.00.
            Dengan gelisah ayahnya bertanya kepada Ridwan .
“kenapa kamu terlambat nak…??”
            Ridwan sanagat malu untuk mengakui kesalahannya, bahwa dia tadi keasikan bermain permainan yang ada di warnet tadi. Akhirnya ridwan pun menjawab perntanyaan ayahnya dengan berbohong.
“tadi mobilnya belum siap yah, jadi Ridawan harus menunggu..”.
 Padahal, tanpa sepengetahuan Ridwan, ayahnya telah menghubungi bengkel itu. Dan, kini ayahnya mengetahui bahwa Ridwan telah berbohong kepadanya.
            Lalu ayahnya berkata. “ada sesuatu yang salah dalam cara ayah mendidikmu nak, sehingga kamu tidak berani untuk mengakui kesalahanmu dan menceritakan yang sebenarnya, sehingga kamu pun harus berbohong kepada ayah”. Sebagai hukumannya, ayah akan pulang kerumah dengan berjalan kaki, dan memikirkannya dengan sebaik-baiknya atas kesalahan ayah dalam mendidikmu..”
            Lalu, ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dinasnya berjalan kaki pulang kerumah. Padahal pada saat itu hari sudah hampir gelap, keadaan jalan pun sama sekali tidak rata. Ridwan pun tak tega melihat penderitaan ayahnya akibat kesalahan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Ia pun mengikuti ayahnya dengan mengendarai mobil dari belakang dengan pelan-pelan. Dan tetesan air mata penyesalan yang tak henti-hentinya jatuh dikedua pipinya.
            Sejak itu, Ridwan tidak pernah mengulangi kesalahannya lagi. Dalam pernyataannya.
“sering sekali saya berfikir mengenai kejadian itu dengan merasa heran. Seandainya ayah menghukumku sebagaimana seorang ayah menghukum anak-anaknya, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai suatu hukuman tanpa kekerasan?? Saya rasa TIDAK!. Dan mungkin saya akan menderita atas hukuman yang diberikan itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa. Saya merasa kejadian itu yang baru saja terjadi kepada diriku sendiri kemarin. itulah kekuatan tanpa kekerasan.”

***
            Sungguh terlalu mudah untuk melihat dan menyalahkan orang lain, dari pada mengevaluasi dan menghukum diri sendiri atas kesalahan yang kita lakuknan sendiri. Memang tidak gampang bagi kita untuk memberi contoh dan menjadi pribadi yang baik. Namun jika kita mau serius untuk berubah, semuanya tak ada yang tidak mungkin. Pikirkan, kita akan  mempengaruhi prilaku akan menjadi sebuah kebiasaan. Dan, kebiasaan yang tertanam dalam diri, akan menjadi sebuah akhlak. Sehingga akhlak kita menjadi baik atau buruk itu tergantung pada diri kita sendiri dan dari pikiran awal kita sendiri, bukan orang lain. Jadi sahabat, kekerasan bukanlah suatu penyelesaian masalah, pikirkanlah lebih baik lagi. Jika masih ada suatu tindakan lebih baik lagi mengapa tidak kita lakukan, pikirkanlah sebelum kita bertindak, karna kekerasan adalah suatu yang tidak baik untuk dilakukan karna dapat merugikan sang penerima kekerasan itu. Jadilah kalian seorang yang penyayang dan memberikan hukuman dengan tanpa kekerasan, karna rasul pun tidak pernah menghukum anak dan istri-istrinya serta murid dan para sahabatnya dengan kekerasan, beliau selalu memberikan suatu plajaran yang baik yang dapat merubah mereka untuk tidak mengulangi kesalahnnya lagi. Maka dari itu contohlah prilaku-prilaku beliau yang mulia dan penuh dengan kasih sayang. Dan sayangilah orang-orang yang berada disekitarmu. Pikirkanlah, bagaimana kalau kita yang mengalami hal dan perbuatan yang berupa kekerasan itu…????

                                                                                            By: ashafa nisa_red