Minggu, 23 Februari 2014

Menghukum Tanpa Kekerasan



            Waktu itu ridwan berusia 17 thn, ia tinggal bersama kedua orang tuanya disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya. Kediaman rumah ridwan berada di tengah-tengah kebun the, letaknya berada di pedalaman desa sri ayu, sukabumi. Mereka tinggal jauh dari keramaian dan mereka pun tidak mempunyai tetangga satupun. Dan tak heran jika ridwan dan kedua saudara perempuannya sangat senang jika ada kesempatan untuk pergi ke kota atau berkunjung kerumah teman atau pun nonton film di bioskop.
            Suatu hari ayah ridwan memintanya untuk mengatarkannya ke kota untuk menghadiri sebuah seminar seharian penuh. Dan ridwan pun sangat gembira dengan kesempatan itu. Ketika ibunya mengetahui bahwa ridwan akan pergi ke kota, ibunya pun memberikan daftar belanja, berniat meminta tolong untuk membelikannya untuk keperluan sehari-hari di rumah, dikarenakan jarak antara rumah ridwan dengan kota itu sangat jauh. Selain itu, ayahnya pun juga memintanya untuk melakukan pekerjaan ayahnya yang telah lama tertunda, yaitu memperbaiki mobil ke bengkel.
            Pagi itu setiba di tempat seminar, ayah berkata :
“ayah tunggumu disini jam lima sore, lalu kita akan pulang kerumah bersama-sama.” Ridwan pun segera menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh ibu dan ayahnya.
            Kemudian setelah selesai, ridwan pergi ke warnet, dan ia sangat menikmati permainan yang sedang ia mainkan, sehingga ia lupa waktu, dan pesan ayahnya untuk menjemputnya jam lima sore. Begitu melihat jam yang menunjukan pukul 17.30 ridwan segera berlari pergi mengambil mobil dibengkel dan terburu bergegas menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu, sudah hampir jam 18.00.
            Dengan gelisah ayahnya bertanya kepada Ridwan .
“kenapa kamu terlambat nak…??”
            Ridwan sanagat malu untuk mengakui kesalahannya, bahwa dia tadi keasikan bermain permainan yang ada di warnet tadi. Akhirnya ridwan pun menjawab perntanyaan ayahnya dengan berbohong.
“tadi mobilnya belum siap yah, jadi Ridawan harus menunggu..”.
 Padahal, tanpa sepengetahuan Ridwan, ayahnya telah menghubungi bengkel itu. Dan, kini ayahnya mengetahui bahwa Ridwan telah berbohong kepadanya.
            Lalu ayahnya berkata. “ada sesuatu yang salah dalam cara ayah mendidikmu nak, sehingga kamu tidak berani untuk mengakui kesalahanmu dan menceritakan yang sebenarnya, sehingga kamu pun harus berbohong kepada ayah”. Sebagai hukumannya, ayah akan pulang kerumah dengan berjalan kaki, dan memikirkannya dengan sebaik-baiknya atas kesalahan ayah dalam mendidikmu..”
            Lalu, ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dinasnya berjalan kaki pulang kerumah. Padahal pada saat itu hari sudah hampir gelap, keadaan jalan pun sama sekali tidak rata. Ridwan pun tak tega melihat penderitaan ayahnya akibat kesalahan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Ia pun mengikuti ayahnya dengan mengendarai mobil dari belakang dengan pelan-pelan. Dan tetesan air mata penyesalan yang tak henti-hentinya jatuh dikedua pipinya.
            Sejak itu, Ridwan tidak pernah mengulangi kesalahannya lagi. Dalam pernyataannya.
“sering sekali saya berfikir mengenai kejadian itu dengan merasa heran. Seandainya ayah menghukumku sebagaimana seorang ayah menghukum anak-anaknya, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai suatu hukuman tanpa kekerasan?? Saya rasa TIDAK!. Dan mungkin saya akan menderita atas hukuman yang diberikan itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa. Saya merasa kejadian itu yang baru saja terjadi kepada diriku sendiri kemarin. itulah kekuatan tanpa kekerasan.”

***
            Sungguh terlalu mudah untuk melihat dan menyalahkan orang lain, dari pada mengevaluasi dan menghukum diri sendiri atas kesalahan yang kita lakuknan sendiri. Memang tidak gampang bagi kita untuk memberi contoh dan menjadi pribadi yang baik. Namun jika kita mau serius untuk berubah, semuanya tak ada yang tidak mungkin. Pikirkan, kita akan  mempengaruhi prilaku akan menjadi sebuah kebiasaan. Dan, kebiasaan yang tertanam dalam diri, akan menjadi sebuah akhlak. Sehingga akhlak kita menjadi baik atau buruk itu tergantung pada diri kita sendiri dan dari pikiran awal kita sendiri, bukan orang lain. Jadi sahabat, kekerasan bukanlah suatu penyelesaian masalah, pikirkanlah lebih baik lagi. Jika masih ada suatu tindakan lebih baik lagi mengapa tidak kita lakukan, pikirkanlah sebelum kita bertindak, karna kekerasan adalah suatu yang tidak baik untuk dilakukan karna dapat merugikan sang penerima kekerasan itu. Jadilah kalian seorang yang penyayang dan memberikan hukuman dengan tanpa kekerasan, karna rasul pun tidak pernah menghukum anak dan istri-istrinya serta murid dan para sahabatnya dengan kekerasan, beliau selalu memberikan suatu plajaran yang baik yang dapat merubah mereka untuk tidak mengulangi kesalahnnya lagi. Maka dari itu contohlah prilaku-prilaku beliau yang mulia dan penuh dengan kasih sayang. Dan sayangilah orang-orang yang berada disekitarmu. Pikirkanlah, bagaimana kalau kita yang mengalami hal dan perbuatan yang berupa kekerasan itu…????

                                                                                            By: ashafa nisa_red